Ahmad's posts with tag: buat diri sendiri

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buat diri sendiri
ReviewReviewReviewReviewBelajar Php [Menggunakan PHP dan Form HTML]Jul 7, '08 7:06 AM
for everyone
Category:Other
Karena masih Newbie di WebDesign saya kemudian mencoba belajar PHP, barusan tadi buat script dasar dari sebuah PHP yang di kombinasikan dengan Form HTML. Postingan ini cuma menjadi pengingat saja kok, kalaupun berguna buat yang lain, alhamdulillah. Sedikit penjelasan menggenai Tutorial ini bisa di lihat di Blog http://prothelon.com , tapi disitu ada yang kurang scriptnya maka saya kemudian berkunjung ke Blog http://blog.ninolooh.com dan menemukan kode yang benar dan shahih......halah !!!

Pertama-tama Buat file PHP dengan nama myfamily.php
Kalau anda pakai linux, Alhamdulillah langsung saja masuk ke direktori httdocs

ahmad-linux:~ # cd /srv/www/htdocs/
ahmad-linux:/srv/www/htdocs # vi myfamily.php  

Masukan Script ini atau supaya lebih mahir di ketik saja.

<html>
<head>
<title>Evanjie</title>
</head>
<body>

<form action="cocokanortu.php" method=post>

Nama Bapak kamu siapa ?
<br> <input type="text" name="NamaBapak">


<p>Nama Emak Kamu siapa ?
<br> <input type="text" name="NamaIbu">
<p>

<input type="submit" name="submit" value="betulkah kamu anaknya ?">
</form>

</body>
</html>

Kalau sudah, simpan file-nya dengan menekan Esc dibarengi dengan perintah : wq untuk menyimpan.

Buat file lain sesuati Input diatas, perhatikan pada kode diatas ada kode ini <form action="cocokanortu.php" method=post>, karena itu kita harus membuat file cocokanortu.php

ahmad-linux:/srv/www/htdocs # vi cocokanortu.php

Masukan kode ini

<html>

<head>

<title>Sayang Sekali</title>

</head>

<p>
<body bgcolor="FFFFFA" text="CEDDHJ">
<?
$NamaBapak = $_POST['NamaBapak'];
$NamaIbu = $_POST['NamaIbu'];
?>
<p>
Kayaknya kamu bukan anaknya<b> Pak
<?php print $NamaBapak; ?> </b> dehhh !
<p>
kamu  juga bohong kan waktu bilang <b>Ibu <?php print $NamaIbu; ?></b> itu adalah ibu kamu ?
<p> Jadi silahkan cari bapak sama Ibu aslimu deh !..key !

</body>

</html>

Simpan file-mu dan Lihat Hasilnya di Konqueror, mungkin akan seperti ini.....














Selamat mencoba !
Semoga sukses dan gak ada error-nya......kalaupun ada. Tenang...ada google kan ?
wassalam !

Blog EntryPamerkan Islam-mu !Jun 5, '08 7:46 AM
for everyone
Adzan sudah berkumandang, aku dan kawanku segera izin keluar dari kantor untuk sholat. Baru melepas kaki meninggalkan ruangan. Kawanku berhenti,
"tunggu kak, saya lupa ambil kopiah "
Kawanku ini memang sering memanggil aku Kakak. Walau kami seumuran, namun karena ia adalah anak Magang di kantor, jadi tetap aku jadi kakaknya. ^_^

Kami berjalan menyusuri trotoar. lalu dia bertanya "Kak, kenapa yah sekarang banyak terjadi kemaksiatan ?"

Dengan sedikit ilmu yang kupahami. Aku jawab saja bahwa itu semua terjadi karena dangkalnya akidah kita dan jauhnya kita dari nilai-nilai Islam.

Dia belum sepakat, dan masih menanyaiku.

"karena negeri ini dan lingkungan kita tidak diatur oleh hukum Allah" jawabku.

lagi-lagi dia belum sepakat.

"jadi...?"

"karena sekarang kemaksiatan itu selalu dipamer-pamer kak. Orang merasa bangga membuka aurat, berzina, membunuh, berkelahi"

Sejenak aku manguk-manguk.

"begitulah kata Ustad yang pernah mengajariku dulu. Makanya kak, sekarang kita juga harus pamer kebaikan. Pamerkan diri kita seorang muslim, tapi bukan bermaksud sombong dan ingin dipuji kak"

"jadi, pamer agar kebaikan itu tidak menjadi sesuatu yang asing"

"Pamerkan islam kita. Jangan malu pake gamis, kopiah dan bawa Quran, supaya orang lain juga bisa tergerak hatinya kak melakukan kebaikan"

Dalam hati aku merenung. Masih malu kah aku menunjukan ke-Islamanku ?

*Petang itu, seorang adik telah mengajariku satu kebaikan. Semoga Allah merahmatinya, aamiin Ya Rabbal'alamin !

Blog EntryDi mana Allah ?Jun 2, '08 4:53 AM
for everyone
Kadang-kadang ada hal aneh yang terjadi dikalangan kaum Muslimin. Termasuk diantara para aktivis dakwah ketika di tanya.

"Dimana Allah ?"

Maka ia akan kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Padahal pertanyaan ini begitu mudah sebenarnya, namun karena tiap hari kita hanya sibuk berdakwah soal hukum-hukum Syariah, tentang jihad, tentang Khilafah, tentang politik, ekonomi islam, tentang persoalan khilafiyah dan lain-lain. Akhirnya kita lupa, bahwa ada hal mendasar yang harus kita ketahui, harus kita hayati dan resapi dengan keyakinan yang teguh, yakni Tauhid kepada Allah SWT.

Salah satu yang perlu kita ketahui adalah pertanyaan, di mana Allah ?

"Allah ada dimana-mana"
"Allah di tempat tertinggi"
"Allah ada di langit "

Di mana jawaban yang paling tepat ?

Yang benar adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy.

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengabarkan pada tujuh tempat di dalam Al Quran yakni :

Pertama, pada surat Al-A'raf: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy ..."

Kedua, pada surat Yunus: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Yunus: 3)

Ketiga, pada surat Ar-Ra'd: "Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Ar-Ra'd: 2)

Keempat, pada surat Thaha: "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy ..." (Thaha: 5)

Kelima, pada surat Al-Furqan: "... kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah ..." (Al-Furqan: 59)

Keenam, pada surat As-Sajdah: "Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersema-yam di atas `arsy." (As-Sajdah: 4)

Ketujuh, pada surat Al-Hadid: "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Al-Hadid: 4)

Dalam ketujuh ayat ini lafazh istawa' datang dalam bentuk dan lafazh yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta'wil, yaitu ke-tinggian dan keluhuranNya di atas 'Arsy.

'Arsy menurut Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja. Sedangkan yang dimaksud dengan 'Arsy di sini adalah singgasana yang mempunyai beberapa kaki yang dipikul oleh malaikat, ia merupakan atap bagi semua makhluk. Sedangkan bersemayamnya Allah di atas-nya ialah yang sesuai dengan keagunganNya. Kita tidak mengetahui kaifiyah (cara)nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifatNya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dari maknanya dalam bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya, karena memang Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab.

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh para Jamaah Ahli Hadist yakni Imam Malik, Imam Muslim, Abu Daud, ad-Darimi, an-Nasai’e). Disebutkan bahwa Ketika Mu’awiyah Bin al-Hakam as-Sulamy ingin memerdekakan hambanya yang bernama Jariyyah, beliau membawanya kepada Rasulullah.  Sabda Rasulullah shallâllahu ‘alaihi wa sallam kepada  budak wanita itu: “Di mana Allah?” Wanita itu menjawab: “Di atas langit.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?” Wanita itu menjawab: “Muhammad Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada pemiliknya: “Merdekakanlah dia sebab dia seorang yang beriman.”

Nah, dari beberapa dalil ini mudah-mudahan kita gak bingung lagi ketika di tanya dimana Allah ? Yakini dan jawablah bahwa Allah berada di atas Arsy.

Wallahu'alam bisshowwab, semoga bermanfaat !


LinkPemimpin Yang Harus DitaatiMay 24, '08 6:29 AM
for everyone
Link: http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/pemimpin-yang-harus-ditaa...

Oleh: Syamsuddin Ramadhan al-Nawiy

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah taat kepada pemimpin. Ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa, ketaatan merupakan sendi dasar tegaknya suatu kepemimpinan dan pemerintahan. Tanpa ketaatan dan kepercayaan kepada pemimpin, kepemimpinan dan pemerintahan tidak mungkin tegak dan berjalan sebagaimana mestinya. Jika rakyat tidak lagi mentaati pemimpinnya maka, roda pemerintahan akan lumpuh dan akan muncul fitnah di mana-mana. Atas dasar itu, ketaatan kepada pemimpin merupakan keniscayaan bagi tegak dan utuhnya suatu negara. Bahkan, dasar dari ketertiban dan keteraturan adalah ketaatan.

Rasulullah Saw selalu menekankan kepada umatnya untuk selalu taat kepada pemimpin dalam batas-batas syari’atnya. Nash-nash syara yang berbicara tentang ketaatan kepada pemimpinan jumlahnya sangat banyak. Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah dan RasulNya, serta pemimpin diantara kalian.” (Qs. an-Nisâ’ [5]: 59).

Ketaatan kepada pemimpin juga banyak disinggung di dalam sunnah. Rasulullah Saw bersabda:

Dari Ibnu ‘Umar ra dari Nabi Saw, beliau Saw bersabda: “Seorang muslim wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiyat. Apabila ia diperintah untuk mengerjakan maksiyat, maka ia tidak wajib mendengar dan taat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka kelak di hari akhir ia akan bertemu dengan Allah SWT tanpa memiliki hujjah. Barangsiapa mata, sedangkan di lehernya tidak ada bai’at maka, matinya seperti mati jahiliyyah.” [HR. Muslim].

Dari Anas ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Dengarkanlah dan taatilah olehmu, walaupun yang memimpin kamu adalah seorang budak dari Ethiopia yang bentuk kepalanya seperti biji kurma.” [HR. Bukhari].

Dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang membenci sesuatu dari tindakan penguasanya, hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya orang yang meninggalkan penguasanya walupun hanya sejengkal, maka ia mati seperti mati di jaman jahiliyyah.” (Imam Nawawi, Riyâdl ash-Shâlihîn).

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang taat kepada penguasa maka, ia benar-benar telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada penguasa maka ia benar-benar telah durhaka kepadaku.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Akan tetapi, ketaatan kepada pemimpin bukanlah ketaatan yang bersifat mutlak tanpa ada batasan. Ketaatan harus diberikan kepada pemimpin, selama dirinya taat kepada Allah SWT dan RasulNya. Jika pemimpin tidak lagi mentaati Allah dan RasulNya, maka tidak ada ketaan bagi dirinya. Al-Qur’an telah memberikan batasan yang sangat jelas dan tegas dalam memberikan ketaatan. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (Qs. al-Kahfi [18]: 28).

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir.” (Qs. Fâthir [35]: 52).

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.” (Qs. al-Qalam [68]: 8).

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (Qs. al-Qalam [68]: 10).

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (Qs. al-Insân [76]: 24).

Meskipun ayat ini dari sisi khithab (seruan) ditujukan kepada Rasulullah Saw, akan tetapi khithab untuk Rasul juga merupakan khithab bagi umatnya. Atas dasar itu, kaum muslim dilarang mengikuti atau mentaati pemimpin-pemimpin yang kafir, mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta banyak melakukan maksiyat di sisi Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang muslim wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiyat. Apabila ia diperintah untuk mengerjakan maksiyat, maka ia tidak wajib mendengar dan taat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Bahkan, Rasulullah Saw mengijinkan umatnya untuk memerangi penguasa-penguasa yang telah menampakkan kekufuran yang nyata. Dari ‘Auf ibnu Malik, dituturkan: “…ditanyakan oleh para sahabat: ‘Wahai Rasulullah tidakkah kita serang saja mereka itu dengan pedang?’, Beliau menjawab: ‘Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah masyarakat (maksudnya melaksanakan hukum-hukum syara’).”

Dalam hadits riwayat Ubadah Ibnu Shamit disebutkan:

“Dan hendaknya kami tidak menentang kekuasaan penguasa kecuali, ‘Apabila kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah SWT.”

Makna sholat pada hadits riwayat ‘Auf bin Malik adalah hukum-hukum syari’at. Pengertian hadits-hadits di atas adalah, jika penguasa-penguasa itu telah menampakkan kekufuran yang nyata, alias menerapkan hukum-hukum kufur di negeri-negeri kaum muslim, maka kaum muslim diijinkan untuk menentang dan memisahkan diri dari mereka. Bahkan, apabila kita ridlo dan menyetujui tindakan-tindakan sang penguasa maka, kita akan berdosa di sisi Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda:

“Akan ada pemimpin-pemimpin, yang kalian ketahui kema’rufannya (kebaikannya) dan kemungkarannya. Maka, siapa saja yang membencinya dia bebas (tidak berdosa), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat. Tetapi, siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka).” [HR. Muslim].

Hadits ini menuturkan dengan sangat jelas agar kaum muslim menjauhi dan berlepas diri dari pemimpin-pemimpin yang telah menampakkan kekufuran yang nyata. Siapa saja yang membenci penguasa-penguasa yang tidak menerapkan Islam, dirinya akan terbebas dari siksaan Allah SWT. Sebaliknya, siapa saja yang meridloi dan mendiamkan kedzaliman, dan kekufuran yang dilakukan oleh penguasa maka, dirinya akan mendapatkan siksaan di sisi Allah SWT.

Demi Allah, masalah memberikan ketaatan kepada pemimpin bukanlah masalah sepele. Apabila kita salah memberikan ketaatan, taruhannya adalah siksa dan pahala dari Allah SWT. Ketaatan kepada pemimpin yang menjalankan syariat Allah adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim. Namun, ketaatan pemimpin yang menolak dan menjauhi aturan Allah adalah larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap muslim. Atas dasar itu, ketaatan yang diberikan kepada pemimpin akan memberikan implikasi pahala dan siksa.

Seorang mukmin tidak boleh menyatakan, “Kami ini adalah rakyat yang hanya mengikuti pemimpin. Walhasil, jika apa yang ditetapkan oleh pemimpin itu salah maka pemimpinlah yang salah, sedangkan kami hanya orang yang mengikuti keputusan pemimpin, jadi kami tidak berdosa.” Sungguh, perkataan semacam ini telah ditangkis oleh al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikan kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukann yang besar.” (Qs. al-Ahzab [33]: 66-68).

Para penghuni neraka selalu mengiyakan dan mengikuti tingkah polah sang pembesar dan pemimpin. Padahal, pembesar dan pemimpin itu telah menyesatkan mereka. Atas dasar itu, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban di sisi Allah, ketika dirinya memberikan ketaatan kepada sang pemimpin. Siapa saja yang mengikuti dan mengiyakan pemimpin-pemimpin yang meluputkan diri dari aturan-aturan Allah, kelak mereka akan mendapat siksa yang sangat pedih. Sementara itu, pemimpin dan pembesar yang menyesatkan rakyatnya, mereka akan mendapatkan siksa dua kali lebih berat daripada orang yang disesatkannya. Na’udzu billahi min dzalik.

Blog EntryBerani dalam dakwahMay 18, '08 8:11 PM
for everyone

Dakwah tak menuntut harus banyak ilmu dan tsaqofah. Yang jelas, apa yang kita ketahui tentang Islam dan apa yang telah kita pelajari berdasarkan Al Quran dan Hadis Shahih maka itulah yang wajib kita sampaikan.
Orang suka atau tidak suka. Sesuai adat atau tidak, diterima atau di tolak, pokoknya yang namanya kebenaran harus di sampaikan.
Dan ini butuh sebuah keberanian.......

berani.....berani.....dan berani !

Ada banyak sekali orang yang menyampaikan Islam hanya pada aspek-aspek yang disenangi orang kebanyakan. Tiap hari yang disampaikan hanya masalah-masalah seperti itu saja setiap saat. Seorang Muballig, aktivis dakwah atau penceramah misalnya,  ketika berdakwah di depan masyarakat yang masih gemar berbuat bid'ah dan tradisi-tradisi yang jauh dari ajaran Islam, maka amat jarang sekali ia akan menyinggung hal-hal seperti itu, didepan para petinggi Bank, kita amat jarang sekali mendengar ia berbicara tentang hukum riba dalam islam. Ketika didepan para pejabat, amat jarang sekali ada  penceramah yang berani mengatakan bahwa Sistem yang ada saat ini adalah sistem kufur yang tidak sesuai dengan Syariat Islam.

Banyak alasan. Dan banyak hal yang menjadi pembenaran yang bisa dijadikan dalih. Takut kehilangan jamaahlah, takut disentiment oleh pemerintahlah, takut di caci dan dibenci karena diri ingin tetap aman dan nyaman. Padahal tidak seperti itu seharusnya seorang pengemban dakwah. Ia harus berani mengatakan kebenaran. Berani dicela..dan dibenci ketika menyampaikan kebenaran risalah Islam.

Berani.....

Seseorang ketika memasuki sebuah kemunitas yang amat jauh dari nilai-nilai islam. Maka pilihannya cuma dua, ia mewarnai atau ia terwarnai. Disinilah keberanian itu dibutuhkan. Apakah ia berani menentang kebiasaan atau budaya yang ada, atau ia masuk dan ikut menjadi bagian dari keadaan yang rusak itu. Apakah ia akan berkompromi dengan kemaksiatan atau ia akan tegas memisahkan antara yg hak dan yang bathil. Dan lagi-lagi, ini butuh keberanian.........

Dan jangan lupa untuk berani menerima kebenaran, berani merenungi diri dan berani mengakui kesalah diri sendiri.

Menyongsong dakwah yang semakin banyak ujian dan tantangannya.
Sudah saatnya kita belajar untuk Berani....
Berani dalam menyampaikan kebenaran dan berani mencegah kemungkaran.

wallahu'alam bisshowwab...
(Training untuk diri sendiri)

Blog EntryBencanaMay 15, '08 8:14 PM
for everyone

Kadang-kadang ketika kita mengalami bencana atau ditimpa musibah, maka akan banyak persepsi yang muncul. Ada yang mengatakan ini adalah Sunnatullah, ini adalah ujian, ini adalah mala petaka dan juga ada yang menganggap semua itu hanya bencana alam. Hendaknya kita ketahui bahwasannya tidak ada satupun bencana dari alam yang lahir dengan sendirinya. Tapi semua itu adalah dari Allah, jadi keliru jika kita mengatakan hal tersebut adalah bencana alam tapi bencana dari Allah, begitulah penjelasan yang pernah saya dengar dari seorang Kyai.

Sebenarnya ketika bencana itu datang, maka bencana itu memiliki tujuan, yakni :
  • Jika bencana itu ditujukan kepada orang-orang yang kuat imannya, maka bencana itu adalah UJIAN
  • Jika bencana itu ditujukan kepada orang-orang yang lemah imannya, maka bencana itu adalah PERINGATAN, sedangkan...
  • Jika bencana itu ditujukan kepada orang-orang yg gemar bermaksiat kepada Allah atau orang-orang kafir, maka hal tersebut adalah AZAB
Jadi, mari pandai-pandai membaca dan memahami setiap bencana yang ada.
Wallahu'alam.


LinkPergaulan Ikhwan dan AkhwatMay 12, '08 9:00 PM
for everyone
Link: http://arnita.blogsome.com/2008/02/27/pergaulan-ikhwan-akhwat/#more-18...

Pergaulan dalam istilah bahasa Indonesia berarti kehidupan bersama, yakni kehidupan antar sesama manusia. Salah satu bentuk pergaulan antar sesama manusia adalah pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Terkadang bentuk pergaulan tersebut bisa berupa persahabatan yang terjalin antara mereka dengan saling mengutarakan isi hati (tempat curhat).

Sebuah persahabatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan bisa dilatarbelakangi oleh kesamaan ide, gagasan, gaya hidup, minat, kebutuhan-kebutuhan, cara berpikir dan harapan-harapan. Dari situ muncullah simpati dan selanjutnya akan ada keterbukaan, jika sudah saling terbuka, maka dilanjutkan dengan sikap curhat. Dalam nuansa religiusnya biasanya dipakai kata ‘ukhuwah’. Namun ukhuwah ini didasari dengan keimanan, keikhlasan dan muroqobatullah.

Kedudukan sahabat begitu khusus dalam hati seseorang, sehingga persahabatan yang terjadi antara lawan jenis non mahrom perlu dipertanyakan, apakah mereka memang murni sebagai seorang sahabat ? Sebab tidak tertutup kemungkinan di hati mereka atau salah seorang dari mereka ada perasaaan memiliki dan penuh harap. Curhat yang terjalin diantara merekapun sebenarnya bukanlah untuk mencarikan sebuah solusi namun tidak jarang hanya untuk pengaduan dan minta perhatian.

Secara fitrah, antara laki-laki dan perempuan memiliki saling ketertarikan seperti positif dan negatif, sehingga tidak ada hubungan persahabata yang bebar-benar tulus diantara mereka. Hal ini perlu menjadi perhatian baik bagi ikhwan maupun akhwat, sebab fenomena ini yang berkembang akhir-akhir ini telah terjadi ‘kelonggaran’ dalam pergaulan, apakah memang zamannya saudah berubah atau karena ruang lingkup dakwah sudah meluas, pergaulan sudah heterogen, bahkan dengan masyarakat secara umum. Sehingga perlu evaluasi kembali terhadap lawan njenis, kendati apa yang dilakuakn semata-mata demi berkembangnya dakwah.

Islam sebagai Dinullah telah mengatur kehidupan antar sesama manusia dengan rincinya. Islam sangat menjaga agar hubungan kerja sama antara laki-laki dan perempuan (ikhwan dan akhwat) hendaknya bersifat umum dalam urusan-urusan muamalat bukan hubungan yang bersifat khusus seperti saling mengunjungi antara mereka yang bukan mahrom atau jalan-jalan bersama. Kerjasama antara keduanya bertujuan agar mereka melaksanakan apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya.

Interaksi diantara mereka mestinya tidak mengarah pada hubungan yang bersifat nafsu syahwat, artinya interaksi mereka tetap dalam koridor kerjasama semata (amal jama’i) dalam menggapai berbagai kemaslahatan dakwah dan dalam melakukan berbagai macam aktivitas yang bermanfaat, tanpa diwarnai oleh ‘kepentingan individu lainnya’.

Pergaulan ikhwan dan akhwat hendaknya menjadikan aspek ruhani sebagai landasan hukum dan syariat sebagai tolok ukur yang didalamnya terdapat hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur.

Dalam menjaga hubungan dengan lawan jenis, rambu yang telah ditentukan Islam hendaknya dijadikan pedoman sekalipun hubungan tersebut dalam kerangka dakwah. Larangan dalam persoalan ini demikian tegas. Atas dasar itu, Islam menetapkan sifat menjaga kehormatan sebagai suatu kewajiban. Diantara ketentuan hukum yang berkenaan dengan hubungan terhadap lawan jenis antara lain adalah :

Pertama, Perintah untuk menjaga pandangan. Allah Swt berfirman : Katakanlah kepada laki-laki yang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Sikap demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS An-Nur : 30-31).

Apapun agen da dakwah yang hendak kita lukan, pandangan terhadap lawan jenis tetap harus dijaga, bukan berarti kita tidak melihat lawan jenis sama sekali, namun menjaga mata agar tidak saling menatap, sebab tatapan mata yang berlama-lama dapat mempengaruhi perasaan sehingga syaitan sangat leluasa menggoda. Rukhshoh hanya diberikan kepada mereka yang terlibat dalam proses belajar mengajar, transaksi jual beli, memberikan kesaksian, berobat dan saat khitbah.

Kedua, Islam telah memerintahkan kepada kaum wanita untuk mengenakan pakaian secara sempurna. Yakni pakaian yang menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. (QS Al-Ahzab : 59). Adapun bentuk dan model pakaian tidaklah termasuk urusan ibadah murni tatpi termasuk aspek muamalah yang illat dan ketentuan hukumnya berporos pada maksud dan tujuan syariat (sebagaimana yang diungkapkan Prof. Abdul Halim dalam Tahrirul Mar’ahnya).

Oleh sebab itu, bagaimanapun bentuk dan model pakaian asalakan dapat menutup aurat dengan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan syariat, sesuai dengan kondisi iklim dan pada sisi lain memudahkan wanita bergerak, maka dapat diterima oleh syar’i. Kriteria dan persyaratan itu antara lain menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapan dan punggung tangan, longgar, tidak ketat dan tidak transparan, serta serasi dan tidak mencolok.

Ketiga, Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan), kecuali wanita itu disertai mahramnya. Rasulullah Saw bersabda : Tidak dibolehkan seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya.

Keempat, Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus hendaknya jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah kaum pria; begitu juga didalam masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Paling tidak jangan sampai terjadi pembauran (ikhtilat), sekalipun dalam urusan dakwah. Pengaturan dan penjagaan shaf ikhwan dan akhwat baik dalam berdemo atau kegiatan lainnya perlu di tata kembali. Ikhtilat ini sangat banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat seperti di dalam kendaraan umum, di pasar, dllnya. Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan hal seperti ini dikategorikan sebagai bentuk dhorurat, selama kita memang belum mampu mengubahnya, namun apabila kita bisa mengaturnya, maka hukum dhorurat tidak berlaku lagi.

Demikian antara lain sebagian kecil dari sekian banyak rambu-rambu yang telah diatur Islam dalam pergaulan. Dakwah sudah menyebar, pergaulan sudah semakin luas, nemun kita sebagai kader dakwah hendaknya tetap menjaga asholah dakwah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

(Oleh : Ustdz. Dra. Herlini Amran, MA., Tarbiyah Akhwat. Majalah Al-Izzah Edisi 12 Th.1/Juli 2004)

LinkIkhwan-Akhwat Bercanda, Bolehkah?May 12, '08 8:22 PM
for everyone
Link: http://revoluthion.multiply.com/reviews/item/2

Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut mizah atau mumazahah. Al-Jailany dalam Syarah Al-Adabul Mufrad, mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 116). Hukumnya mubah menurut An-Nawawi (An-Nawawi, Al-Adzkar, hlm.279). Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah saw. menjawab “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR Tirmidzi, al-Adzkar, hlm. 279).

Jadi, bercanda itu hukumnya mubah, asalkan sesuai syari’ah. Itu secara umum. Lalu bolehkah bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram? Jawabnya, boleh (mubah) sepanjang sesuai syariah. Dalilnya, karena Rasulullah pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim.

Rasul berkata kepada gadis yatim itu, ”Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda. “ Ummu Sulaimah lalu berkata,”Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak muda selama-lamanya.” (HR. Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik RA) (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 134; Nasy’at Al-Masri, Senyum-senyum Rasulullah, hlm. 65-66).

Jadi, bercanda dengan lawan jenis non-mahram, juga mubah berdasarkan dalil di atas. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya seperti via e-mail, chatting, atau kirim-kiriman SMS. Tetapi, meski mubah secara syar’i, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Di antaranya :

Pertama, materi canda :

1. Tidak mengolok-ngolok/mempermainkan ajaran Islam
2. Tidak menyakiti perasaan
3. Tidak mengandung kebohongan, ghibah (menggunjing), dan kecabulan
4. Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram (‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali, Pemuda dan canda, hlm. 38-44)

Kedua, pihak wanita tidak boleh genit, baik dalam perkataan tulisan, maupun dalam tingkah laku. (QS. Al-Ahzab:32).

Ketiga, wajib menutup aurat dan menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) (QS. An-nur:31), dan tidak boleh berkhalwat (menyendiri berdua).

Keempat, jika dalam kehidupan umum (seperti kampus), wajib dipenuhi syaratnya :

(1) dalam rangka melakukan aktivitas yang dibolehkan syariah (seperti belajar mengajar)è (misalnya : Bapak dosen yang mengajar di kelas sedikit melucu agar suasana cair/sebagai ice breaker – red. KI).

(2) interaksi itu mengharuskan pertemuan (ijtima’) antara pria dan wanita. Jika tidak mengharuskan pertemuan – alias bisa dikerjakan masing-masing – maka tidak boleh ada interaksi, sehingga tidak boleh ada canda. Misalnya, aktivitas makan-makan di kantin, dll. Ini semua tidak boleh dilakukan secara bersama. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’I fi al-islam, hal. 40). Wallahu a’lam. (www.konsultasi.wordpress.com)

Jadi, sebaiknya sangat berhati-hati untuk bercanda dengan lawan jenis. Baik di dunia nyata ataupun di dunia maya (email, chatting, SMS) karena bisa jadi akan menuju kepada perbuatan haram. Kalau memang ingin bercanda, masih banyak obyek lain yang halal, misalnya dengan teman sesama jenis, atau dengan istri.

Sumber Jawaban : Rubrik Konsultasi Fikih, Majalah Sobat Muda, Edisi 2 / Tahun I Oktober 2004 diasuh oleh Ust. Muhammad Shiddiq al-Jawi.

Blog Entry[penting nich] di baca yach !May 11, '08 4:10 AM
for everyone
Bismillahirrahmanirrahim.....

Alhamdulillah Islam memang hebat. Dua insan atau lebih yang dulunya tidak saling kenal dan tak pernah bertemu bisa saling akrab dan berikrar saudara. Yang dulunya sedikit teman jadi ramai kawannya. Yang dulunya sendiri, kini telah larut dalam keramaian sahabat, saudara dan saudari. Indahnya Islam, karena akidah yang menyatukan kita. 

Tak dapat dipungkiri, interaksi persaudaraan dan persahabatan ini tidak hanya terjadi antara ikhwan dengan ikhwan atau akhwat dengan akhwat saja. Tapi telah membentuk korelasi yang majemuk (ya elaah van.......bahasanya itu loh.. hehehhe) yakni adanya interaksi yang dekat antara ikhwan dan akhwat. Ehm....

Lalu bagaimana interaksi mereka. Bagaimana mereka menyapa dalam kata-kata ?

Reka Peristiwa.

"akhi......gmn kabar neh. Makacih yach udah bantuin tadi ?"
"oh..alhamdulillah baik ukhti"
"hanyoo. gi ngapain cih mlam-mlam lom tdur. dah ma'em lom ?"
"alhamdulillah ...sejak pagi tadi belum makan apa-apa" (si Akhi lupa kalau lagi lapar dan berucap alhamdulillah)
"duh.....kacian"

Jujur saja, diantara kita masih ada yang sering bercanda dan berkata yang "kelewat batas"  seperti itu (menurut saya). Adanya perlakuan khusus dalam kata-kata setidaknya menujukkan ada sesuatu diantara mereka, walau tak ketahuan, apakah sekedar kata atau menyimpan sandi-sandi rahasia yang penuh makna.

Kata-kata atau ungkapan kadang-kadang bisa membinasakan. Itu yang membuat saya sedikit kesal ketika mendapat sms dari OM atau Tante atau teman .

"Assalamu'alaykum say......kamu disuruh ibumu pulang tuh"
"Say....gimana ujiannya"
"Bro.....besok datang yach...makacih"

Entah mengapa saya begitu geli dengan kata-kata "Say, Yach, Makacih, Ma'em...dan sejenisnya". Walau itu datangnya dari orang-orang terdekat saya namun kata-kata  itu sepertinya membuat saya serasa kembali ke masa balita dulu ketika di suapin sama Ibu "a..aaam......anak pinter....ayuk buka mulutnya... ma'em lagi!"

Saya mungkin bisa memaklumi jika memang itu bentuk kasih sayang mereka kepada saya. Hanya saja yang saya takutkan saat ini adalah jika ungkapan-ungkapan manja itu datangnya dari orang-orang yang bukan keluarga saya apalagi dari seorang akhwat.

"afwan....bukannya KeGRan, tapi saya benar-benar takut terjadi fitnah.

Nuansa kata-katanya itu loh, bisa menumbulkan interpretasi (apaan tuh) yang salah di kalangan akhi dan ukhti yang lain. Dianggapnya ada apa-apa padahal kenyataannya memang ada apa-apa......upsss ! maksudnya tidak ada hubungan apa-apa.

Jadi, sambil mengingatkan diri saya pribadi, saya juga berwasiat (surat wasiat nanti menyusul......) kepada temen-temen yang lain. Harap kata-katanya itu loh.....yang EYD saja, gak usah kayak bahasanya CINCHA laura.....yang kebanyakan "ECHO" nya....soalnya rawan Fitnah.

Di MP sendiri banyak kan suami-istri yang ngeBlog bareng. Gimana  tata bahasa mereka ? Terlihat biasa dan sederhana bukan (wallahu'alam klo di PM nya gimana......).

hmm.......kepada akhi/ukhti yang pernah lewat dan mampir di MP saya dan komentar pake "echo" kayak diatas. Saya gak kesel kok, dan gak perlu dihapus koment-komentnya (kalau ada.....) cukup lain kali, kata-katanya di sederhanakan saja. Setuju tidak ?

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarhokatuh.

Blog EntryCerewetMay 7, '08 8:13 PM
for everyone

Suatu ketika akan di adakan seminar disebuah kota. Semua sudah siap dari mulai perlengkapan hingga pemateri. Satu-satunya yang masih kurang adalah Moderator. Entah mengapa hal yang satu ini terasa begitu sulit untuk di siapkan. Bukannya tidak ada yang bisa menjadi moderator, namun panitia merasa kesulitan memilih siapa sebenarnya yang bisa mengatur jalannya seminar nanti.
"pilih si A, ana takut akh........soalnya kalau sudah bicara gak mau berhenti"
"hmmm.........si B juga gitu, bisa-bisa dia jadi Pemateri juga"
"apalagi si C"

Cerewet !!!!!

ajaib memang sifat yang satu ini. Jika seseorang telah terjangkit olehnya, lumayan mujarab bikin pusing orang-orang disekelilingnya. Diskusi yang tenang bisa jadi ribut, acara yang seharusnya cepat bisa molor seharian, kalau terjadi dilingkungan rumah tangga bisa menimbulkan cerai bahkan sampai membuat orang-orang stress mencari kapas untuk menutup mulutnya.

Susah memang memiliki teman, keluarga atau seorang sahabat yang cerewet. Sangat susah mendengarnya diam jika sudah bangun tidur. Nanya sana, nanya sini. Komen sana, koment sini.......akhirnya sesuatu persoalan yang sederhana jadi berbelit-belit dan muter dulu keliling dunia baru kembali mencari akar masalah.

"yah.....jadi kembali ke topik, emm.......tadi masalah apa yah ?"

Ada banyak kejadian menggelitik di dunia per-cerewetan ini. Salah satunya Pada sebuah acara dialog, ada seorang Bapak yang ingin bertanya . Yah, sekedar bertanya....tapi sebelum bertanya si Bapak ini menyampaikan narasi dahulu sampai berjam-jam,  hingga menjelang akhir acara si Bapak belum berhenti akhirnya Moderator gerah juga.

"pak....pak.....pertanyaannya mana ?"

Si Bapak sambil tersenyum geli dan berkata "Maaf Pak, pertanyaannya gak jadi...lupa !"

Gubraksss......

Ya sudah, supaya gak berpusing-pusing ria lagi. Baiknya kita bertanya,
Gimana sih cara menghadapi orang cerewet ?

1. Potonglah pembicaraannya dengan bijaksana dan diplomasi. Lalu mintalah ia menyimpulkan apa yang ia katakan.

2. Mintalah ia untuk mencatatkan pandangan dan pemikirannya. Serta di akhir penyampaian pembicaraannya, berilah ia alokasi waktu yang sempit untuk menyimpulkannya.

3. Ketika ia berhenti berbicara, bersegeralah Anda untuk menyimpulkan apa yng dikatakannya, setelah itu berpindahlah kepada point berikutnya.

4. Janganlah Anda memfokuskan pandangan Anda padanya, pura-puralah tidak peduli terhadap seluruh komentar-komentarnya.

5. Biarkanlah para pendengar memotong pembicaraannya setiap kali ia mendesak untuk berbicara.

6. Ketika berbicara dengannya, pergunakanlah pertanyaan-pertanyaan terbatas dan tertutup, yaitu pertanyaan yang jawabannya selalu dijawab dengan "ya" atau "tidak".

7. Batasilah waktu berbicara dengannya serta tentukanlah dengan teliti point-point pembicaraan dengannya.

8. Janganlah Anda menyimak setiap kalimat yang diucapkannya. Serta, ingatkanlah ia pada tema asal pembicaraan.

9. Tentukanlah waktu untuk bertemu dengannya setelah selesai dari pertemuan, perkumpulan atau setelah berinteraksi dengannya. [hudzaifah.org]

Nah, sekarang selamat menghadapi orang cerewet

Blog EntrySesungguhnya aku takut !May 7, '08 8:13 AM
for everyone


Hari ini kubuka lagi lembaran-lembaran celoteh yang telah kutulis.
sepertinya ada rasa takut yang kurasa.....
Seperti malam yang tak jua tersingkap.....

Sebenarnya aku takut terlalu banyak berkata-kata........
karena jangan sampai diri ini terlalu banyak bicara.....
sedangkan dosa kian bertambah dan mengeruk sisa-sisa amal yang ku punya.........

Sesungguhnya aku takut........
Takut termasuk golongan orang-orang munafik........

Astagfirullah Ya Robbi......

“Sesungguhnya bila tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka menjumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya”. (Al Azhab: 61-61)

ReviewReviewReviewReviewReviewEnam Perusak UkhuwahMay 1, '08 8:31 PM
for everyone
Category:Other
Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan. Disamping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah bisa tetap terpelihara.

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]

Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara:

Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita.

Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah.

Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri.

Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini

From : email forward by Erhie

Blog EntryOh, itukan menurut anda !Apr 30, '08 9:30 PM
for everyone

Jalan kebenaran ini milik kita..............

"Saya sebenarnya orang malas berdebat dan kurang suka berdebat.
 Tapi kalau diskusi ? hayooo......."

loh, bukankah debat dengan diskusi sama saja ?

Hmm.....memang agak mirip, tapi keliru jika kita mengatakan debat sama dengan dikusi karena ada perbedaan antara diskusi dengan debat.

Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.[wikipedia] Dalam debat hampir selalu ada yang menang dan kalah.

Sedangkan Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut.[wikipedia]

Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi adalah sebuah proses tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas, lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan dan merampungkan kesimpulan baik berupa pernyataan/keputusan. Seseorang/kelompok ketika berdiskusi setidaknya harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
  1. Pengertian yang menyeluruh tentang pokok pembicaraan.
  2. Sanggup berpikir bebas dan lugas.
  3. Pandai mendengar, menjabarkan dan menganalisa.
  4. Mau menerima pendapat orang lain yang benar.
  5. Pandai bertanya dan menolak secara halus pendapat lain.
Di dalam diskusi selalu muncul perdebatan. Debat ialah adu argumentasi, adu paham dan kemampuan persuasi untuk memenangkan pemikiran/paham seseorang.[dajal blog]

Dari sini saya melihat perbedaan mendasar antara diskusi dan debat. Diskusi umumnya dilakukan untuk saling berbagi, tukar informasi dalam rangka mencari kebenaran. Sedangkah debat sebenarnya hampir sama dengan diskusi hanya saja dalam prosesnya kadang-kadang lebih cenderung melihat siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam adu pemikiran.Siapa yang lemah konsep pemikirannya dan siapa yang kuat dalam analogi pemikiran (umumnya orang-orang JIL jago neeeh), siapa yang benar dan siapa yang salah (menurut dalil masing-masing).

Disinilah saya kurang suka berdebat, apalagi jika debatnya ditopang oleh semangat Egoisme, sudah......debatnya hanya omong kosong yang berujung pada pernyataan "oh, itukan menurut anda, kalau saya mah harus begini !"

Saya tidak benci berdebat, hanya saja kurang suka terutama jika yang berdebat adalah sesama muslim sendiri yang akhirnya hanya untuk saling menjatuhkan dan melemahkan. Alhamdulillah jika niatnya memang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran, itu sebuah pengecualian.

Sekali lagi jika diskusi......hayuuuuuuuuk

Wallahu'alam

LinkPenyakit imanApr 28, '08 9:33 PM
for everyone
Link: http://groups.google.com./group/myquran/browse_thread/thread/85f0e7ac3...

Oleh : Romfrom Neja

Dimusim dingin, saat itu banyak orang tidur terlelap di balik
selimut-selimut tebalnya,
Ketika terdengar adzan subuh berkumandang dari salah satu masjid, beberapa
orang langsung bangun dari tidurnya mendatangi masjid untuk melaksanakan
ibadah shalat subuh berjamaah di masjid, meskipun udara saat itu sangat
dingin.

Pada saat yang sama, ketika terdengar adzan subuh berkumandang, ada yang
tetap terlelap, ada juga yang terbangun namun hanya berbalik arah tidur, ada
yang terbangun sebentar kemudian merasakan dinginnya hawa dalam rumah
kemudian balik lagi ketempat tidurnya dalam selimut karena membayangkan
betapa dinginnya udara diluar. Mereka sebenarnya tahu kalau shalat subuh itu
kewajiban, tapi karena udara dingin dan sepertinya nyaman kalau tidur lagi.

Diwaktu yang sama apabila ada seekor ular berbisa tiba-tiba mendekati
orang-orang yang sedang nyaman tidur, kemudian orang-orang yang sedang
enak-enak didalam selimut itu tahu bahwa ada ular berbisa mendekatinya ,
tentu dengan serta merta mereka akan kaget atau bahkan akan langsung
meloncat dari tempat tidurnya.

Mengapa mereka loncat? karena mereka yakin ular tersebut berbahaya, mereka
yakin ular tersebut bisa mematuk dan menggigit tubuhnya jika tak segera
menghindar dan menjauh darinya.

Tak sedikit mereka yang tahu bahwa orang yang meninggalkan shalat nanti di
alam kubur Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyiksanya dengan ular berbisa
dan siksaan-siksaan yang pedih lainnya, namun karena iman/keyakinannya
lemah akan janji-janji Allah tersebut, maka pengetahuannya tersebut hanya
sekedar menjadi pengetahuannya saja, mungkin mereka sangat pintar
menjelaskan pengetahuan-pengetahuannya tersebut namun karena pengetahuannya
tersebut tidak mampu membuat dirinya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
maka pengetahuan-pengetahuanya menjadi tidak bermanfaat.

Mereka sangat yakin dengan apa yang mereka saksikan dengan mata kepalanya,
tetapi terhadap hal-hal yang belum terlihat mata mereka mudah sekali
melupakan.

Mungkin hal tersebut bisa menjadi salah satu cara mendiagnosa iman kita
masing-masing, sejauh mana kita semangat untuk mengamalkan amal-amal agama
dalam kehidupan kita. dimulai dari yang fardhu, kemudian yang sunnah2.
Karena jika iman kita kuat, akan ada kekuatan mengamalkan apa-apa yang
diperintahakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dimulai dengan amal-amal wajib yang telah diketahui ilmunya, kemudian yang
sunnah-sunnah.

Mungkin dirumah kita sering lupa dimana menaruh kunci, lupa dimana menaruh
HP, lupa menaruh kacamata, lupa menaruh pensil, buku atau yang lainnya.
Kalau kita coba pikirkan , masalah-masalah dunia yang nampak di mata kepala
saja kita kadang sering lupa, apalagi ini perkara agama yang tidak nampak
mata, maka penting untuk kita terus menerus saling mengingatkan terutama
tentang perkara agama.

Pengetahuan mengenai janji-janji Allah bisa menjadi keyakinan apabila
pengetahuan tersebut senantiasa di mudzakarah dan diulang-ulang kemudian
seikit-sedikit diamalkan. Jika amal yang kecil-kecil telah mampu dilakukan
dengan keyakinan, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala akan berikan kekuatan
iman, dan ilmu-ilmu yang bermanfaat lainnya.

Beda orang yang sakit fisiknya dengan orang yang sakit iman adalah orang
yang sakit fisiknya akan berusaha menyembuhkan dengan usaha pergi ke dokter,
namun orang yang sakit imannya jangankan pergi berobat, terkadang diberitahu
bahwa dia sedang sakit imannya saja tidak percaya.

Bagaimana perasaan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya saat
mengetahui dari dokter bahwa anaknya mengidap kanker ganas dan musti segera
dioperasi, namun ketika si anak diberi tahu bahwa dirinya mengidap kanker
ganas si anak tidak percaya, bahkan menganggap dokternya gila. Karena si
anak sama sekali tidak merasakan sakit apa-apa. Tentu ini tidaklah wajar,
namun hal ini tidak mustahil bagi penderita penyakit iman.

Benar masih banyak ilmu2 yang belum mampu kita amalkan, karena lemahnya iman
kita. karena iman kita sedang sakit.

can you feel it?

Blog EntryCerdas dalam ber-KomentarApr 22, '08 8:56 AM
for everyone
Bismillahirrahmanirrohim.....

Pernah tidak kita menulis sebuah postingan kemudian dibaca seseorang yang ujung-ujungnya cuma berkomentar "pertamax" atau KeduaX", atau "syukron" dll.

Ada sebagian orang sebenarnya tidak terlalu suka dengan komentar-komentar seperti itu. Kenapa ? karena orang-orang seperti ini sebenarnya membutuhkan komentar yang berkualitas yakni komentar yang berupa umpan balik atas tulisan yang telah dibuatnya dengan "susah payah" . Orang seperti ini membutuhkan nasehat, kritik, saran, dan pembanding untuk tulisan-tulisannya. Namun katika para pembaca bertandang ke Blognya dan hanya memberi komentar "ala kadarnya" ......yah, paling-paling akan di delete dan ia akan segera menutup akses komentar.

Di blognya , Mas Kusaeni pernah bilang gini "Masalahnya saya sudah bosan dengan komentator asal Indonesia, komentar yang sampai di situs blog Kus ini, rata – rata kurang terarah, tidak sesuai dengan topik yang ada. Maksudnya, saya ingin para komentator itu setidaknya memberikan atau meninggalkan jejak yang berisi komentar berkaitan dengan isi tulisan. Bukannya komentar berisi salam , apa kabar, tanya ini tanya itu yang sama sekali tidak terkait dengan apa yang saya tulis"

Sebenarnya saya pribadi tidak mempermasalahkan komentar seperti ini. Bahkan komentar sependek "TFS atau thanks/syukran/jazakallah" amat saya hargai sebagai ucapan terima kasih dari pembaca yang telah berkenan membaca dan mengambil manfaat dari tulisan saya.

Pada awalnya, dan masih berlaku hingga saat ini, komentar merupakan bentuk apresiasi pembaca baik blogger maupun bukan terhadap ide yang penulis sampaikan. Pada perkembangannya, komen berkembang sebagai alat sosial antar blogger untuk mempererat hubungan antara penulis dan komentator. Pada hubungan yang kuat, komen bisa berisi ledekan, ejekan, bahkan makian [Mas Syaifulloh]
Sebenarnya apa yah tujuan dari sebuah komentar ?
  • Untuk memberi nasehat, saran atau kritikan
  • Untuk memberi pernyataan tidak setuju
  • Untuk memberi tambahan informasi
  • Untuk memberi ucapan terima kasih
  • Untuk saling berdiskusi atau debat
  • Untuk meninggalkan jejak saja
Banyak hal yang menjadi alasaan seseorang ketika memberi komentar. Jenis komentarnya pun berbeda-beda, ada yang pendek, ada yang sedang bahkan ada juga yang panjang sampai "ngeblog" di kolom komentar. Kembali ke karakter orang yang tidak suka komentar basa-basi seperti Mas Kus, ada baiknya kita bersama-sama memperhatikan kualitas dari sebuah komentar. Jika ada tulisan yang menurut kita perlu dibenahi, yang sampaikan saja apa kesalahan disertai pembenarannya, begitupun jika ada tulisan yang kurang, maka harus ditambahkan apa yang menjadi kekurangannya.

Ada kalanya seseorang termasuk saya, ketika menulis sesuatu bisa saja terjadi kekeliruan atau salah dalam menerima informasi yang kemudian dikelola menjadi sebuah postingan (informasi disini luas maknanya, bisa berupa Ayat, hadist, fakta kemasyarakatan, pernyataan seorang tokoh......dll) , maka dalam hal ini para pembaca harus teliti sebelum berkomentar "setujuuu" atau "sepakat" mengenai tulisan tersebut. Karena biar bagaimanapun yang namanya opini prbadi, bisa jadi jauh dari fakta yang ada, disinilah proses tabayyun itu perlu

Nah, dari sekarang mari mulai cerdas dalam berkomentar. Boleh bercanda, berguyon atau santai dalam berkomentar, itu tidak masalah asal tidak berlebihan (takutnya nanti bisa menimbulkan fitnah). Berkomentar pendek,sedang, ataupun panjang tak masalah, yang penting masih terarah dan sesuai isi postingan yang diberi komentar......dan tentu saja karena kita adalah seorang Muslim maka jangan sampai berkomentar yang menyalahi syariat.
"satu kata semangat dari anda, itu sudah cukup bagi saya ! " ini ungkapan dari hati yang paling dalam loh....

wallahu'alam



Blog Entryah........tau ah !Apr 15, '08 5:53 AM
for everyone
Postingan lama neh.......cuma di naikin lagi

Adam terhenyak tatkala melihat hawa.
Dadanya bergetar akan pesona Sang Maha Karya,
darahnya berdesir menatap keindahan mutiara sejagat.
bahkan surga yg melenakan tak mampu mengusik kegoncangan hatinya,
disitulah anak cucu adam mengenal cinta.
penuh keindahan...........
penuh kegoncangan..........

CINTA.............
hanya kebenaran yg mampu memaknainya
dan hanya kesucian yg mampu menggapainya.

CINTA............
hanya jiwa yg suci yg mampu menatap indahnya
dan hanya hati yg bening yg mampu melihat kilaunya.

CINTA............
bahagia kan menyemai jika ia tak dilukai
senyuman kan mengehiasinya jika ia tak disakiti
dan surga kan menanti jika ia tak dinodai.

CINTA...........

ia akan menerangi andai nafsu tak menutupinya
ia akan menjaga andai naluri tak merasuki dan membelenggunya

CINTA.........

Alam bertasbih karena cintanya kpd Allah...
malaikat bersujud karena cintanya kpd Allah...
lantas manusia ??.........

Sepasang merpati beradu kasih di keheningan malam. Tanpa suara, dan tanpa rayu.
Keduanya bercinta dalam khusyunya sujud dalam pangkuan Rabbanya.

Allah Yg Maha Cinta dan Maha Mendengar manjadi saksi ikatan CINTA mereka. Keduanya memohon dng tulus dan penuh harap. Dengan asa agar CINTA mereka ttp suci. Tanpa nafsu serakah memiliki...dan tanpa pandangan yg membinasakan.....
Keduanya berikrar janji setia untuk mengikhlaskan hati..jiwa dan raga hanya untuk Sang Maha CINTA.

CINTA karena Allah......
tanpa menatap mata sang kekasih..
aku bisa merasakan cinta.

tanpa membelai ujung jilbabnya ..aku bisa merasalkan CINTA.

tanpa menyentuhnya...tanpa memeluknya..aku bisa merasakan CINTA.....yah aku merasakannya.....

CINTA bukan berarti segalanya........tapi tanpa cinta segalanya seakan-akan tak berarti.....

asa berharap cinta.....
bathin berikrar cinta.....
dan raga mengarungi cinta.....

untuk apa ???............
untuk siapakah ????

KEKASIH................TIDAK!!!

ia hanyalah insan lemah yg tak berdaya.
sejenak antara masa jasadnya akan beku....begitupun dng dirimu.....

CINTA sejati......

CINTA sejati tak mengenal sakit hati.
cinta sejati tak ada dendam kala disakiti
dan cinta sejati tak kecewa andai tak terbalaskan......
cinta sejati adalah cinta yg tulus....
ikhlas krn Allah.........
maka tak selayaknya cinta berharap pada makhluk
hanya kepada Allah-lah cinta dan harap layak bersandar

manusia hanya makhluk melankolis yg tak tahu makna CINTA.....
manusia adalah makhluk bodoh yg tak mengenal cinta
hanya karena kemurahan Rabb-mulah manusia mampu bicara CINTA
hanya dng kasih sayangNya-lah manusia mampu memaknai cinta.....
lantas mengapa manusia lebih besar rasa cintanya kpd kekasihnya di banding kpd Allah...

ini yang masih kupertanyakan.....pada diriku dan pada semesta !

CINTA...CINTA

hanya hamba yg sholiha yg layak menerima CINTA dr sang malaikat

dan hanya hamba yg sholeh yg mampu menerima CINTA dr sang bidadari.....

say no to steady

say yes to love......

katakan TIDAK tuk pacaran

katakan YA tuk cinta

hidup CINTA

salam cinta tuk semua.

Blog EntryKerikil dalam Tepung !Apr 13, '08 8:56 PM
for everyone
"Seperti menjatuhkan kerikil dalam tepung, maka seperti itulah perasaan sakit yang diderita saudaramu ketika engkau menyakitinya dengan lisanmu dan perbuatanmu.

Engkau menyangka sakit itu tak ada, tapi sungguh ia tersembunyi, dan engkau tidak menyadarinya". Sungguh malangnya nasib, jika Allah tidak menerima taubatmu, karena saudaramu tidak memaafkan kesalahan yang telah engkau perbuat kepadanya !


jaga lisan..........jaga hati.........jaga amalan !

LinkKumpulkanlah Kembali Kapas-kapas Yang TersebarApr 13, '08 8:52 PM
for everyone
Link: http://nhusase.multiply.com/journal/item/29

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering keluar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat disekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat "Sobat. Aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?"

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, "Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit ".

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis di sebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

"Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?" "Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi", kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, "Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar kemana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi".

"Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja" kata si sakit

"Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat". Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

MPers yg luar biasa

Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita.

Kalau memang itu yang akan terjadi , lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita.tentu akan Jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu yang membuat orang lain berbahagia.

Blog Entrymenyeberangi dunia...Apr 11, '08 8:47 PM
for everyone
Memang perkara dunia bukan tujuan, karena sekali lagi dunia hanya tempat berteduh untuk melanjutkan perjalanan ke rute berikutnya . Ibarat menyeberang di jalan, pinggir jalan yang kita pijak sebelumnya adalah alam Rahim, setelah itu kita ditakdirkan berjalan memasuki dunia yang merupakan pertengahan jalan, karena penyeberangan ini akan mengantarkan kita pada tempat tujuan diseberang jalan yakni alam akhirat. Jika saat itu kita hanya berpikir untuk tetap berdiri ditengah jalan dan tidak berpikir untuk terus berjalan menyeberang, maka apa yang terjadi ? Kita akan digilas kendaraan, dan mungkin diseberangkan dalam keadaan yang terluka atau bahkan dalam keadaan tragis..........

Memang menyeberang, tapi kita sampai diseberang dalam keadaan tersiksa dan sekarat.
Kita semua pasti kembali ke alam akhirat......
Dunia ini hanyalah titik, dan akhirat itulah garis panjang tak bertepi.......dan pada saat itu ada dua pilihan bagi kita, surga atau neraka !

wallahu'alam.......saatnya banyak menangis, dan jangan banyak canda serta tawa,
karena kita tak tahu apa ending dari kehidupan ini ?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help