Posted by احمدا on Jun 24, '08 7:37 PM for everyone
Link: http://annilasyiva.multiply.com/journal/item/331/.BERTENGKAR_.

Ini ada suatu cerita dari saudara kita mudah2 an akan bermanfaat bagi kita semua Yang Udah Nikah, Mau Nikah, atau punya Niat untuk nikah.

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berrumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam! muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan  desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa-basi tanpa emosi.

Tulisan ini murni Non Politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa men-skip ya...

>>> and the story start from… once upon a time (hehehe…)…

Ketika saya dan si pencuri [hati saya] -- eh enggak koq dia tidak curi hati saya, malah saya kasikan dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus.

Pada awal bertemu dengan pencuri hati saya, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap. Kami mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka:

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.

Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal Nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "kamu makin cantik kalau marah, makin energik ..."

Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."

Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka", Saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya.
Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.

Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita).

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan.

Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi".

Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups... saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40) .

Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi Kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".

Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak". Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari maafnya daripada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak !

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

* Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?"
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda?"
* Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa ?"

Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !

Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissh oliihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh....

Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai-Nya, padahal nyawamu ditangan-Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....? ?? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ... :)

Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa'at, "Dengan ucapan syahadat dan ijab qabul itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi". Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia yang merasa pintar.


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
aabab01 wrote on Jun 24
thanks for sharing..
rayyan07 wrote on Jun 24
nambah lagi
6.klo marah jangan ngajak saya n jangan cerita ke saya

hehehehe
TFS
achfan wrote on Jun 24
nambah lagi
6.klo marah jangan ngajak saya n jangan cerita ke saya

hehehehe
TFS
iya.........pendam sendiri dan kalau perlu mengadu kepada Allah..........ceritakan segalanya..
moeja wrote on Jun 24
Nambah juga
7. Jangan marahi saya ya, karena langsung nyelonong tanpa salam :-)

TFS
Salam ukhuwah........Assalamu'alaikum
achfan wrote on Jun 24
moeja said
Nambah juga
7. Jangan marahi saya ya, karena langsung nyelonong tanpa salam :-)

TFS
Salam ukhuwah........Assalamu'alaikum
wa'alaykumussalam.......
tambah lagi......

8. jangan marah sebelum mengetahui akar persoalannya.......
:D
aabab01 wrote on Jun 24
bagi diri ku secara pengalaman ..pertengkaran harus ada yang lebih penting yang harus dipertikaikan..jadi jika terselalu bertangkar nanti hingga tanpa disedari didepan umum pun hendak bertangkar kerana pepatah Melayu Alah bisa tegal biasa..ertinya sudah menjadi kebiasaan..jadi tidak kira dimana-mana mereka akan menlakukannya..pasti menrugikan kedua-dua belah pihak..cuba renungkan bersama..
restudessy wrote on Jun 25
:) hmmmm... menarik ... TFS :)
giar2007 wrote on Jun 25
Nasehat yang indah untuk menuju kluarga yang sakinah,mawaddah dan warohmah....
Jazakillah khair....
nurhasanahbogor wrote on Jun 25, edited on Jun 25
ikut nambah ah...jangan lupa ucapkan dulu "basmalah", maklum klo marah, khawatir ada yang memprovokasi, trus aneh ya, koq marah bisa gantian? ga da solusi dech? ^_^
achfan wrote on Jun 25
Nasehat yang indah untuk menuju kluarga yang sakinah,mawaddah dan warohmah....
Jazakillah khair....
iya.......
Semoga penulisnya mendapat pahala karena telah memberikan nasehat kepada kita semua.....
waiyyakum akhi.....
achfan wrote on Jun 25, edited on Jun 25
ikut nambah ah...jangan lupa ucapkan dulu "basmalah", maklum klo marah, khawatir ada yang memprovokasi, trus aneh ya, koq marah bisa gantian? ga da solusi dech? ^_^
wah........solusi yah Mbak ?.
mungkin maksud penulis itu, kalau yang suami lagi marah......istri mendengarkan (jadi bisa menganalisis apa kesalahnnya dan segera mencari solusi terbaik).......begitupun sebaliknya jika Istri yang marah.....suami yang diam mendengarkan, mencari apa kesalahannya dan segera memperbaikinya...
hehehe......
solusi bukan ?

*sok tau.....:D
waiyah wrote on Jul 2
klu marah tidak boleh berjamaah..!!!!
T_T
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help